Minggu, 09 Desember 2012

PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK PRA SEKOLAH



PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
UNTUK PRA SEKOLAH

Pengertian Bimbingan dan Konseling pada Anak Usia Dini
Menurut Crow and Crow (M. Surya, 1988:45) bimbingan diartikan sebagai bantuan yang diberikan seseorang baik pria maupun wanita yang memiliki pribadi yang baik dan pendidikan yang memadai kepada seorang individu dari setiap usia untuk menolongnya, mengembangkan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, membuat pilihan sendiri, dan memikul bebannya sendiri.
Ditinjau dari sudut orang tua kegiatan bimbingan dan konseling pada anak usia dini dilakukan untuk:
a.       Membantu orang tua agar mengerti, memahami dan menerima anak sebagai individu,
b.      Membantu orang tua dalam mengatasi gangguan emosi pada anak yang ada hubungannya dengan situasi keluarga dirumah,
c.       Membantu orang tua mengambil keputusan dalam memilih sekolah bagi anaknya sesuai dengan taraf kemampuan kecerdasan, fisik dan indranya.
d.      Memberikan informasi kepada orang tua untuk memecahkan masalah kesehatan anak.

Fungsi Bimbingan dan Konseling untuk Anak Usia Dini
a.       Fungsi pemahaman
Fungsi pemahaman yaitu usaha bimbingan yang dilakukan guru atau pendamping untuk menghasilkan pemahaman yang menyeluruh tentang aspek-aspek sebagai berikut:
1)      Pemahaman diri anak didik terutama oleh orang tua dan guru,
2)      Hambatan atau masalah yang dihadapi anak,
3)      Lingkungan anak yang mencakup keluarga dan tempat belajar,
4)      Lingkungan yang lebih luas diluar rumah dan diluar tempat belajar,
5)      Cara-cara penyesuaian dan pengembangan diri.

b.      Fungsi pencegahan
Fungsi pencegahan yaitu usaha bimbingan yang menghasilkan tercegahnya anak dari berbagai permasalahan yang dapat mengganggu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan dalam proses perkembangan.
c.       Fungsi perbaikan
Fungsi perbaikan adalah usaha bimbingan yang menghasilkan terpecahnya berbagai permasalahan yang dialami oleh anak didik.
d.      Fungsi pemeliharaan dan pengembangan
Yaitu usaha bimbingan yang menghasilkan terpeliharanya dan berkembangnya berbagai potensi dan kondisi positif anak didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.

Ruang lingkup bimbingan untuk Anak Usia Dini
a.       Bimbingan Pribadi dan Sosial
Bimbingan ini dapat membantu anak dalam memecahkan masalah-masalah pribadi sosial.
b.      Bimbingan Belajar
Tujuan dan tugas pengembangan pendidikan melalui kegiatan bermain sambil belajar yang mencakup pengembangan kemampuan dasar dan pembentukan perilaku.
c.       Bimbingan karir
Bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan dan pemecahan masalah-masalah karir, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalah-masalah karir yang dihadapi secara sederhana.




Ciri Bimbingan dan Konseling Untuk Anak Usia Dini
Menurut Syaodih, E(2004) ada beberapa ciri bimbingan dan konseling bagi anak usia dini yang dapat dijadikan rujukan bagi guru atau pendamping, yaitu:
1.      Proses Bimbingan dan Konseling Harus Disesuaikan dengan Pola Pikir dan Pemahaman Anak
Pelaksanaan bimbingan dan konseling bagi anak usia dini relatif cukup sulit untuk dilaksanakan. Kondisi ini terjadi bukan disebabkan karna berbedanya langkah-langkah bimbingan, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan karakteristik anak yang dibimbing.
2.      Pelaksanaan Bimbingan Terintegrasi Dengan Pembelajaran
Pelaksanaan bimbingan konseling dilaksanakan secara bersama-sama dengan pelakasanaan pembelajaran, artinya guru atau pendamping pada saat akan merencanakan kegiatan pembelajaran harus juga memikirkan bagaimana perencanaan bimbingannya.
3.      Waktu pelaksanaan bimbingan sangat terbatas
Interaksi guru atau pendamping dengan anak relatif tidak lama, rata-rata pertemuan dalam sehari hanya 2,5-3 jam.  
4.      Pelaksanaan bimbingan dilaksanakan dalam nuansa bermain
Bermain merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia anak dan bahkan dapat dikatakan tiada hari tanpa bermain. Bermain bagi anak merupakan suatu aktivitas tersendiri yang sangat menyenangkan yang mungkin tidak bisa dirasakan atau dibayangkan oleh orang dewasa.
5.      Adanya keterlibatan teman sebaya
Keterlibatan teman sebaya perlu dipertimbangkan guru dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling karena melalui teman sebaya upaya mengatasi masalah khuisusnya masalah sosial emosi dapat dipandang sebagai cara yang tepat untuk mengatasi masalah yang dialami anak.



6.      Adanya keterlibatan orang tua
Ketika anak sedang belajar di PAUD guru atau pendamping berperan sebagai penganti orang tua. Mengingat permasalahan yang dihadapi anak maka peran orang tua dalam membantu tumbuh kembang anak merupakan suatu hal yang sangat penting.
7.      Ruang Lingkup Layanan Bimbingan
Bimbingan bagi anak usia dini terdiri atas 5 bentuk layanan, yaitu :
a)      Layanan pengumpulan data
Layanan pengumpulan data dimaksudkan untuk menjaring informasi-informasi yang diperlukan guru atau pendamping anak usia dini dalam memahami karakteristik, kemampuan dan permasalahan yang mungkin dialami anak.
b)      Layanan informasi
Layanan informasi dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pemahaman baik untuk anak maupun bagi orang tua. Untuk anak usia dini yang relatif masih usia muda, masih sangat sedikit informasi atau pengetahuan yang diketahui dan dipahami anak.
c)      Layanan Konseling
Proses konseling pada anak usia dini berbeda dengan konseling yang dilakukan pada remaja atau orang dewasa. Layanan konseling dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah seperti yang diungkapkan dalam uraian terdahulu yaitu melakukan :
(1) Identifikasi masalah
(2) Diagnosis
(3) Prognosis
(4) Treatment, dan
(5) Evaluasi tindak lanjut
d)     Layanan penempatan
Layanan penempatan, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan anak memperoleh penempatan yang tepat sesuai dengan kondisi dan potensinya.
e)      Layanan evaluasi dan tindak lanjut
Layanan evaluasi dan tindak lanjut merupakan layanan untuk mengetahui tingkat keberhasilan penanganan yang telah dilakukan guru atau pendamping.

Syarat-Syarat Program Layanan
Menurut Syaodih (2004) dalam menyusun suatu program bimbingan dan konseling pada anak usia dini, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu :
1.      Prinsip dasar bimbingan dan konseling anak usia dini
Pelaksanaan bimbingan konseling pada anaka usia dini tidak mengunakan waktu dan ruang tersendiri seperti halnya bimbingan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Nuansa bermain menjadi bagian dari pelaksanaan bimbingan karena dunia anak adalah dunia bermain.
  1. Esensi bimbingan dan konseling
Dalam pelakasanaannya, bimbingan juga diarahkan untuk membantu orang tua agar memiliki pemahaman dan motivasi untuk turut mengembangkan kemampuan anak karena kelekatan anak usia dini terhadap orang tua relative masih tinggi.
  1. Orientasi bimbingan dan konseling
Masa ini sering disebut sebagai masa “Golden Age” atau masa keemasan karena pada masa ini anak sangat peka untuk mendapatkan rangsangan-rangsangan.
  1. Konsep yang mendasari pelaksanaan bimbingan dan konseling
Pelaksanaan bimbingan konseling pada anak usia dini pada dasarnya berangkat dari pemahaman tentang pengembangan anak bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda-beda.
  1. Bentuk layanan bimbingan dan konseling
Istilah bentuk layanan bimbingan menunjuk pada jumlah anak pada saat guru atau pendamping melakukan bimbingan. Bentuk layanan bimbingan dapat dilakukan secara individual atau kelompok.

  1. Setting layanan bimbingan konseling
Pada anak usia dini dapat menggunakan seting individual, kelompok dan klasikal. Setting ini digunakan sangat tergantung dari kebutuhan layanan bimbingan.
2.      Penyusunan Program
Menurut Miller (Rochman Natawidjaja, 1998) program bimbingan yang baik, yaitu program yang apabila dilaksanakan akan efesien dan efektif. Program tersebut memiliki ciri, seperti :
  1. Program itu disusun dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata dari para siswa disekolah yang bersangkutan
  2. Kegiatan bimbingan diatur menurut skala prioritas yang juga ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dan kemampuan petugas
  3. Program dikembangkan berangsur-angsur, dengan melibatkan semua tenaga pendukung disekolah dalam merencanakannya
  4. Program itu memiliki tujuan yang ideal, tetapi realistis dalam pelaksanaanya.
  5. Program itu mencerminkan komunikasi yang berkesinambungan diantara semua anggota staf pelaksanaannya
  6. Menyediakan fasilitas yang diperlukan
  7. Penyusunannya disesuaikan dengan program pendidikan di lingkungan di sekolah yang bersangkutan
  8. Memberikan kemungkinan pelayanaan kepada semua siswa
  9. Memperlihatkan peran yang penting dalam menghubungkan dan memadukan sekolah dengan masyarakat
  10. Berlangsung sejalan dengan proses penilaian diri baik mengenai program itu sendiri maupun kemajuann dari siswa yang dibimbing serta mengenai kemajuan pengetahuan, keterampilan dan sikap para petugas pelaksanaannya
  11. Program itu menjamin keseimbangan dan kesinambungan pelayanan bimbingan.

3.      Pelaksanaan Program
Pelaksanaan program dibagi dua bahasan, yaitu :
  1. Pelaksanaan bimbingan dan konseling yang berorientasi kepada semua anak.
  2. Pelaksanaan bimbingan dan konseling yang berorientasi kepada masalah yang dihadapi anak.

Masalah-Masalah Bimbingan dan Konseling Pendidikan
Menurut Bomo Walgito dalam bukunya Bimbingan dan Konseling di Sekolah, terdapat hanyak aspek yang menjadi cakupan bimbingan dan konseling pendidikan atau sekolah. Di antara berbagai cakupan tersebut, antara lain: hubungan antara anak didik dengan sekolah, hubungan antara anak didik dengan keluarga, hubungan antara anak didik dengan lingkungannya, hubungan antara anak didik dengan masa depannya, hubungan antara anak didik dengan aktivitas untuk mcngisi waktu luangnya, hubunr.m antaru anak didik dengan uang saku dan pekcrjuannva, hubungan antara anak didik dengan nilai moral dan agama, dan hubungan antara anak didik dengan pribadinya sendiri.

a.      Hubungan Antara Anak Didik dengan sekolah
Berbagai bentuk permasalahan yang sering muncul adalah amukan atau kemarahan anak-anak didik yang tidak naik kelas dengan merusak berbagai fasilitas belajar, kebencian anak didik terhadap guru tertentu, munculnya geng-geng peserta didik yang suka tawuran antarpelajar, rendahnya prestasi akademik, dan bentuk-bentuk permasalahan lain yang sejenis.
Oleh karena itu, guru BK di sekolah perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait, diantaranya adalah petugas keamanan atau Satpam, OSIS, guru agama dan lain sebagainya. Guru BK harus  mampu menjadi pelopor gerakan aanak didik bangga dengan sekolahnya.




b.      Hubungan Antara Anak Didik dengan Lingkungannya
Nah, hubungan anak didik dengan keluarganya tidak bisa diabaikan dalam iklim pendidikan yang harmonis di sekolah. Sebab, sering kali anak-anak yang bermasalah di keluarga atau di rumahnya akan dibawa ketika masuk sekolah. Akibatnya, mereka tidak bisa konsentrasi dalam belajar, hingga prestasi belajarnya menurun drastis.
Dalam hal ini fungsi bimbingan dan konseling di sekolah menguatkan hubungan antara anaik didik dari kedua orang tuanya. Caranya bisa melalui berbagai media, di antaranya dengan menyelenggatakan pertemuan antara pihak sekolah dan orang tua atau wali murid dalam satu bulan sekali. Dalam pertemuan tersebut hendaknya ada tukar informasi antara orang tua dan sekolah. Isinya, berupa keluh kesah atas, perilaku anak di rumah maupun di sekolah. Di samping keluh kesah, juga harus dikemukakan capaian-capaian anak didik di sekolah maupun di rumah.

c.       Permasalahan antara anak didik dengan lingkungannya
Permasalahan-permasalahan yang biasanya dialami oleh anak didik adalah ketcrasingan dia dengan lingkungan sosialnya. Keterasingan ini akan berakibat pada perilaku bermasalah, seperti pemalu, minder, pendiam, lemah mental, dan perilaku-perilaku menyimpang yang lain.
Tugas guru BK sebagai konselor keluarganya menanamkan nilai-nilai etika lingkungan universal yang biasanya bersumber dari adat, tradisi, budaya dan agama setempat. Dengan demikian, setuju atas tidaknya anak didik terhadap lingkungannya mempunyai dasar dan pijakan yang kuat diri nilai-nilai tersebut. Sehingga, alasannya untuk tidak setuju bisa dipertunggungjawabkan demikian pula sebaliknya.

d.      Hubungan Antara Anak Didik dengan Masa Depannya
Banyak di antara anak didik yang gelisah dan cemas memikirkan masa depan pendidikannya. Kecemasan dan kekhawatiran ini mencakup dua hal berkaitan dengan sekolah mana yang bisa menjanjikan masa depannya, dan jurusan atau pilihan program studi apa yang mempunyai prospek karier lebih cemerlang.
Tugas guru BK sebagai konselor atas anak didiknya harus dapat memberi pencerahan kepada mereka agar mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depannya dengan lebih baik. Di samping memotivasi agar mereka belajar keras dan siap memenangkan kompetisi memperebutkan kursi di sekolah-sekolah unggulan di atasnya, guru BK juga harus melakukan penelusuran bakat, minat, dan kompctensi anak didiknya. Dengar penelusuran bakat, minat, dan kompetensi ini, diharapkan guru BK mampu mengarahkan jurusan atau program studi yang cocok dan tepat untuk setiap anak didiknya.

e.       Hubungan  antara anak didik dengan aktivitas untuk mengisi waktu luangnya
Anak-anak yang menghabiskan waktu luangnya untuk bermain seharian dan melupakan tugas sekolah akan menurun prestasi akademiknya, di samping jenis-jenis permainan yang diperankannya belum mengandung nilai edukatif yang baik. Demikian pula dengan anak-anak yang mengisi waktunya untuk belajar sepanjang waktu. Akibatnya, anak kehilangan masa bahagianya dengan segenap ekspresi spontan yang murni dan polos. Dampak lebih jauh dari tekanan ini akan membuat anak tersiksa emosinya, sehingga menderita luka batin yang berkepanjangan.
Sebab, hanya melalui bimbingan dan konseling, motivasi anak didik untuk memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya dapat dibangkitkan. Melalui bimbingan dan konseling anak didik akan mengerti tentang  manajemen waktu; kapan ia harus bermain dan kapan ia harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Bahkan, anak didik juga akan tahu bagaimana menyelesaikan tugas-tugas sekolah secara kelompok sambil bermain dengan teman-teman kelompoknya. Lebih dari itu, melalui bimbingan dan konseling diharapkan guru BK selaku konselor dapat mendorong anak didiknya untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya.

f.       Hubungan Antara Anak Didik dengan Uang Saku dan Pekerjaannya
Jika anak didik diberi uang sakucukup, maka masalah yang sering timbul adalah penggunaannya yang seringkali tidak tepat, seperti membeli makanan kecil yang banyak mengandung bahan pengawet dan tidak ada gizinya, atau membeli benda mainan yang tidak ada  nilai edukatifnya, seperti kartu naruto dan sejenisnya. Bahkan, tidak sedikit anak-anak yang sudah mulai "taruhan" atau judi. Dari penggunaan uang saku yaitu kurang tepat tersebut, di samping ancaman kesehatan fisiknya, juga bcrakibat pada perilaku yang meyimpang.
Jika anak didik tidak dibekali uang saku ketika berangkat sekolah, akibat yang clitimbulkannya tidak kalah buruknya. Anak bisa mcnjadi minder ketika teman-temannya jajan. la merasa malu ketika teman-temannya mengajak jajan bersama, sementara dirinya tidak mempunyai uang. Anak cenderung mengasingkan diri dari lingkungan sekolah dan teman-temannya.
Sedangkan penyimpangan terhadap perilaku anak-anak akibat dari pekerjaannya adalah kehilangan masa bahagia dengan segenap permainannya.
Nah, selayaknya bimbingan dan konseling di sekolah harus memberi pelajaran agar anak-anak berkenan menyisihkan sebagian uang sakunya untuk ditabung. Di samping itu, perlu arahan untuk membeli berbagai makanan dan permainan yang bermanfaat  bagi perkembangan fisik dan psikisnya.
Sedangkan mengenai pekerjaan anak didik dalam membantu orang tua, hendaknya dahun proses bimbingan dan konseling guru BK berkomunikasi secara intens dengan wali murid agar memberikan hak-hak anaknya untuk bermain secukupnya, di samping memberikan kesempatan yang proporsional untukx membantu pekerjaan orang tua.

g.      Hubungan Antara Anak Didik dcngan Nilai Moral dan Agama
Pendek kata, anak yang mengalami permasalahan dalam hubungannya dengan agama yang dipeluknya akan memandang agama sebagai belenggu kebebasan geraknya. Sehingga, anak-anak cenderung mcnjauh dari agama. Dan, hal ini sama artinya dengan ia menjauhi nilai-nilai moral universal dalam kehidupan-nya.
Dalam hal ini bimbingan dan konseling di sekolah berfungsi mengembalikan hubungan yang baik antara anak didik dan agama yang dipeluknya. Perlu ditekankan bahwa konselor (guru BK) tidak boleh mempengaruhi, apalagi memaksakan keyakinan atau agama tercentu kepada kliennya atau anak didiknya.
Tugas konseling tidak lebih dan  tidak kurang mengembalikan hubungan yang baik antara klien (anak didik) dengan agama yang dipeluknva. Hal ini memungkinkan bahwa guru BK berbeda aliran kepercayaan dengan klien atau anak didiknya. Tetapi, fungsi profesionalisme konseling tidak boleh ditinggalkan, mengingat bimbingan dan konseling di sekolah adalah upaya pertolongan dan pemberi bantuan kepada anak didiknya.

h.      Hubungan Antara Anak Didik dengan Pribadinya Sendiri
Hubungan antara anak didik dengan pribadinya sendiri adalah hubungan seseorang dengan pergulatan batiniah berupa emosi, kehendak, dan nafsu yang ada di dalam diri anak tersebut. Sebagaimana telah disinggung bahwa banyak anak-anak yang mengalami kesulitan dalam memenangkan pergulatan dengan diri sendiri.
Dalam kondisi yang demikian, bimbingan dan konseling di sekolah menjadi harapan satu-satunya untuk membekali anak didik berperang mclawan dan menaklukkan dirinya sendiri. Bimbingan dan konseling bagaikan senjata ampuh bagi anak didik untuk membabat habis segala macam kehendak negatif atau nafsu yang mengajak pada kegagalan dan kehancuran.    
Atas dasar ini konselor (guru BK) harus bisa mengem balikan kepercayaan diri anak didik, sehingga mampu mengalahkan dirinya sendiri dan memenangkan  pertarungan melawan kegagalan tersebut. Tanpa upaya ini, niscaya anak didik akan tetap terpuruk dalam kekalahan dan kegagalan.



i.        Hubungan Antara Anak Didik dengan Tuhannya
Hubungan antara anak didik dengan Tuhannya adalah hubungan intim yang bersifat ruhaniah atau spiritualitas. Dalam hal ini anak didik dipersepsikan telah mempunyai konsep dan keyakinan tcrhadap kekuasaan Tuhan. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk menaati semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Nah, fungsi bimbingan dan konseling adal mengembalikan hubungan yang baik antara anak die dengan Tuhannya secara proporsional. Pada taha tahap tertentu, konselor (guru BK) dituntut untuk mampu membuktikan bahwa apa pun yang terjadi dalam diri seseorang adalah buah dari perilaku sendiri, sementara Tuhan scbatas memberikan legitimasi semata. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka semua disebabkan oleh kelalaian orang itu sendiri.
Tuhan sama sekali tidak bermaksud untu mencelakai, apalagi mencederai hamba-Nya yang telah berusaha semaksimal mungkin dengan kegagalan dan kehancuran. Tetapi, sifat Maha Adil Allah dan Pengasih serta Penyayang-Nya akan mernberi balasan atai ganjaran sesuai dengan amal yang dilakukan olel hamba yang bersangkutan.

Berlatih Merancang Program Bimbingan Dan Konseling Pada Pra Sekolah TK (PAUD)
Dalam penyusunan program bimbingan perlu ditempuh langkah-langkah seperti dikemukakan oleh Miller yang dikutip oleh Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) seperti berikut :
  1. Tahap Persiapan. Langkah ini dilakukan melalui survei untuk menginventarisasi tujuan, kebutuhan dan kemampuan sekolah, serta kesiapan sekolah yang bersangkutan untuk melaksanakan program  bimbingan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan langkah awal pelaksanaan program.
  2. Pertemuan-pertemuan permulaan dengan para konselor yang telah ditunjuk oleh pemimpin sekolah. Tujuan pertemuan ini untuk menyamakan pemikiran tentang perlunya program bimbingan serta merumuskan arah program yang akan disusun.
  3. Pembentukan panitia sementara untuk merumuskan program bimbingan. Panitia  ini bertugas merumuskan tujuan program bimbingan yang akan disusun, mempersiapkan bagan organisasi dari program tersebut, dan membuat kerangka dasar dari program bimbingan yang akan disusun.
  4. Pembentukan panitia penyelenggara program. Panitia ini bertugas mempersiapkan program tes, mempersiapkan dan melaksanakan sistem pencatatan, dan melatih para pelaksana program bimbingan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
Melalui empat langkah tersebut diharapkan program bimbingan itu dapat diwujudkan dengan baik.
          Di samping rumusan tentang langkah-langkah penyusunan program bimbingan sebagaimana dikemukakan itu, berikut ini dapat pula disajikan langkah-langkah penyusunan program bimbingan yang urutannya cukup sederhana, yaitu :
  1. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutauhan sekolah terutama yang ada kaitannya dengan kegiatan bimbingan. Pada kegiatan ini dapat dilakukan pertemuan-pertemuan dengan personel sekolah lainnya guna mendapatkan masukan (input) mengenai berbagai hal yang perlu ditangani oleh konselor.
  2. Setelah data terkumpul perlu dilakukan penentuan urutan prioritas kegiatan yang akan dilakukan, dan sekaligus menyusun konsep program bimbingan yang akan dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Dalam kegiatan ini juga ditentukan personalia yang akan melaksanakan program kegiatan itu serta sasaran dari program tersebut.
  3. Konsep program bimbingan dibahas bersama kepala sekolah bila perlu dengan mengundang personel sekolah untuk memperoleh balikan guna penyempurnaan program tersebut.
  4. Penyempurnaan konsep program yang telah dibahas bersama kepala sekolah.
  5. Pelaksanaan program yang telah direncanakan.
  6. Setelah program dilaksanakan, perlu diadakan evaluasi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bilamana ada bagian-bagian yang tidak terlaksana dan seterusnya dicari faktor penyebabnya.
  7. Dari hasil evaluasi program tersebut kemudian dilakukan penyempurnaan (revisi) untuk program berikutnya.
Demikian seterusnya, sehingga terwujudlah program bimbingan yang lebih sempurna. Terciptanya program bimbingan yang baik telah merupakan sebagian dari keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling itu sendiri.
Winkell (1991) memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menyusun program bimbingan di tingkat pendidikan tertentu, yaitu :
1.        Menyusun tujuan jenjang pendidikan tertentu, seperti yang telah dirumuskan. Tujuan pendidikan di Sekolah dasar jelas berbeda dengan tujuan pendidikan di Sekolah menengah pertama, dan seterusnya.
2.        Menyusun tugas-tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik pada tahap-tahap perkembangan tertentu.
3.        Menyusun pola dasar yang dipedomani dalam memberikan layanan.
4.        Menentukan komponen-komponen bimbingan yang diprioritaskan
5.        Menentukan bentuk bimbingan yang sebaiknya diutamakan seperti bimbingan kelompok atau bimbingan individual, bimbingan akademik atau bimbingan karier, dan sebagainya.
6.        Menentukan tenaga-tenaga bimbingan yang dapat dimanfaatkan misalnya konselor, guru, atau tenaga ahli lainnya.
Berdasarkan rambu-rambu tersebut program bimbingan untuk masing-masing jenjang pendidikan dapat dirumuskan dengan tepat sesuai dengan karakteristiknya. Selain itu, program bimbingan hendaknya disesuaikan dengan keadaan individu yang akan dilayani.
 Taman kanak-kanak sebenarnya belum termasuk jenjang pendidikan formal dan lebih dikenal dengan pendidikan pra sekolah. Pendidikan formal terendah adalah sekolah dasar (SD). Meskipun demikian menurut Winkel (1991) tenaga- tenaga pendidikan ditaman kanakkanak juga dituntut untuk memberikan layanan bimbingan.
 Hal ini, dikuatkan dalam pedoman bimbingan dan penyuluhan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1980 Buku III C, dalam rangka pelaksanaan kurikulum Taman Kanak-Kanak 1976.
 Pelayanan bimbingan dan konseling di Taman kanak-kanak, hendaknya ditekankan pada :
·         Bimbingan yang berkaitan dengan kemandirian dan keharmonisan dalam menjalin hubungan sosial dengan teman-teman sebayanya.
·         Bimbingan pribadi, seperti pemupukan disiplin diri dan memahami perintah.
Disamping itu, layanan bimbingan untuk anak taman kanak-kanak perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis, seperti pemberian kasih sayang dan perasaan aman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar