Minggu, 09 Desember 2012

FUNGSI DAN PERAN TERAPIS

A.  Fungsi dan Peran Terapis
Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam dunia. Teknik yang digunakan mengikuti alih-alih pemahaman. Karena menekankan pada pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan metode-metode, dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu kepada klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase yang dijalani oleh klien yang sama. [1]
Tetapi eksistensil memusatkan pada pengertian subjektif, terhadap dunia klien dan membuatnya mendapatkan pengertian yang baru. Fokusnya adalah pada kehidupan yang sekarang. Terapis membentuk hubungan yang efektif dengan klien dan membantu klien mengerti dan merasa tertantang serta menyadarkan klien akan tanggung jawabnya, terapis membuat/membenarkan pola piker klien yang salah terhadap hidupnya.[2]
Menurut Buhler dan dan Allen, para ahli psikilogi humanistik memiliki artis bersama yang mencakup hal-hal berikut :
1.      Mengakui pentingnya pendekatan diri pribadi ke pribadi
2.      Menyadari peran dari tanggung jawab terapis
3.      Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik
4.      Berorientasi pada pertumbuhan
5.      Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh
6.      Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien
7.      Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
8.      Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri
9.      Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebesan klien.

May (1961, hlm 81) memandang tugas terapis di antaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaan dalam dunia : Ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subjek yang memiliki dunia”.
Frankl (1959, hlm. 174) menjabarkan peran terapis sebagai “spesialis mata daripada sebagai pelukis”, yang bertugas”memperluas dan memperlebar lapangan visual pasien sehingga spektrun keseluruhan dari makna dan nilai-nilai menjadi disadari dan dapat diamati oleh pasien”.
Untuk contoh mengenal bagaimana seorang terapis yang berorintasi eksistensial bekerja dalam pertemuan terapi, maka terapis akan bertindak sebagai berikut :
1.      Memberikan reaksi-reaksi pribadi dalam kaitan dengan apa yang dikatakan oleh klien
2.      Terlibat dalam sejumlah pernyataan pribadi yang relevan dan pantas tentang pengalaman-pengalaman yang mirip dengan yang dialami oleh klien
3.      Meminta kepada klien untuk mengungkapkan ketakutannya terhadap keharusan memilih dalam dunia yang tak pasti
4.      Menantang klien untuk melihat selurug cara dia menghindari pembuatan putusan-putusan dan memberikan penilaian terhadap penghindaraan itu
5.      Mendorong klien untuk memeriksa jalan hidupnya pada periode sejak memulai terapi dengan bertanya “ Jika anda bisa secara ajaib kembali kepada cara anda ingat kepada diri anda sendiri sebelum terapi, maukah anda melakukannya sekarang ?”
6.      Beritahukan kepada klien bahwa ia sedang mempelajari apa yang dialaminya sesungguhnya adalah suatu sifat yang khas sebagai manusia bahwa dia pada akhirnya sendirian, bahwa dia harus memutuskan untuk dirinya sendiri, bahwa dia akan mengalami kecemasan atau ketidakpastian putusan-putusan yang dibuat, dan bahwa dia akan berjuang untuk menetapkan makna kehidupannya di dunia yang sering tampak tak bermakna.[3]

B.  Hubungan antara Terapis dan Klien (Peran Konselor)
Hubungan terapeutik sangat erat bagi terapis eksistensial. Penekanan diletakkan pada pertemuan antarmanusia dan perjalanan bersama alih-alih pada teknik-teknik yang mempengaruhi klien, isi pertemuan terapi adalah pada teknik-teknik yang mempengaruhi klien. Isi pertemuan terapi adalah pengalaman klien sekarang bukan masalag klien. Hubungan dengan orang lain dalam kehadiran yang otentik difokuskan kepada “ di sini dan sekarang”. Masa lampau atau masa depan hanya penting bila waktunya berhubungan langsung.
Dalam menulis tentang hubungan terapeutik, Sidney Jourard (1971) mengimbau agar terapis, melalui tingkah lakunya yang otentik dan terbuka, mengajak kepada keotentikan, Jourard meminta agar terapis membangun hubungan Aku-Kamu, di mana pembukaan diri terapis yang spontan menunjang pertumbuhan dan keotentikan klien. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Jourard (1971, hlm. 142-150), Manipulasi melahirkan kontramanipulasi . Pembukaan diri melahirkan pembukaan diri pula. Ia juga menekankan bahwa hubungan terapeutik bisa mengubah terapis sebagaimana ia mengubah klien. Hal itu berarti bahwa siapa yang menginginkan apa dan pertumbuhannya tidak berubah, tidak perlu menjadi terapis.
Jourard adalah salah satu contoh yang baik tentang seorang terapis yang mengembangkan gaya diri yang berorientasi humanistik. Ia menunjukkan bahwa menjadi unik, otentik, dan menggunakan teknik-teknik yang beragam dalam kerangka humanistik adalah suatu hal yang mungkin.
Jourard tetap berpendapat bahwa jika terapis menyembunyikan diri dalam pertemuan terapi, maka dia terlibat dalam tingkah laku tidak otentik yang sama dengan yang menimbulkan gejala-gejala pada diri klien. Menurut Jourard, cara untuk membantu klien agar menemukan dirinya yang sejati, serta agar tidak menjadi asing dengan dirinya sendiri adalah, terapis secara spontan membukakan pengalaman otentiknya kepada klien pada saat yang tepat dalam pertemuan terapi.[4]
Terapi eksistensial mengutamakan hubungan dengan klien
a.       Hubungan ini penting bagi terapis karena kualitas dari setiap orang diperlihatkan dalam situasi terapi yang akan mengubah stimulus menjadi positif
b.      Dengan hubungan yang efektif ini terapis dapat menggali sifat dasar klien dan karakteristik pribadi mereka
c.       Vontras, dkk, menyatakan bahwa terapi eksistensial ini adalah perjalanan menuju kea rah dalam diri individu yang di dapat dari hubungan terapis dengan klien
d.      Tujuan akhirnya adalah untuk menghadapi jalan hidup mereka
e.       Terapis  perlu mengadopsi gaya yang lebih fleksibel dan teori yang berbeda untuk klien yang berbeda
f.       Empati merupakan hal yang penting dalam proses terapi[5]


C.  Teknik-teknik dan Prosedur-Prosedur Terapeutik
Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur terapeutik bisa dipungut dari beberapa pendekatan terapi lainnya.
Rollo May (1958, 1961), seorang psikonalisis Amerika yang diakui luas atas pengembangan psikoterapi eksistensial di Amerika, juga telah mengintegrasikan metodologi dan konsep-konsep psikoanalisis ke dalam psikoterapi eksistensial.
Pada pembahasan di bawah ini diungkap dalil-dalil yang mendasari praktek terapi eksistensial humanistic. Dalil-dalil ini, yang dikembangkan dari suatu survai atas karya-karya para penulis psikologi eksistensial, berasal dari Frankl (1959, 1963), May (1953, 1958, 1961), Maslow (1968), Jourard (1971) dan Bugental (1965), merepresentasikan sejumlah tema yang penting yang merinci praktek-praktek terapi.

D.  Tema-tema dan Dalil-dalil Utama Eksistensial : Penerapan-penarapan pada Praktek Terapi
Dalil 1 : Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari diri yang menjadikan dirinya mampu melampaui situasi sekarang dan membentuk basis bagi aktivitas-aktivitas berpikir dan memilih yang khas manusia.
Kesadaran diri itu membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain, sebagaimana dinyatakan oleh May (1953), “Manusia adalah makhluk yang bisa menyadari dan oleh karenanya, bertanggung jawab atas keberadaannya”.
Pada inti keberadaan manusia, kesadaran membukakan kepada kira bahwa
1.      Kita adalah makhluk yang terbatas, dan kita tidak selamanya mampu mengaktualkan potensi-potensi
2.      Kita memiliki potensi mengambil atau tidak mengambil tindakan
3.      Kita memiliki suatu ukuran pilihan tentang tindakan-tindakan yang akan diambil, karena itu kita menciptakan sebagian dari nasib kita sendiri
4.      Kita pada dasarnya sendirian, tetapi memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, kita menyadari bahwa kita terpisah, tetapi juga terkait dengan orang lain
5.      Makna adalah sesuatu yang tidak diperoleh begitu saja,tetapi merupakan hasil dari pencarian kita dan dari penciptaan tujuan kita yang unik
6.      Kecemasan eksistensial adalah bagian hidup yang esensial sebab dengan meningkatnya kesadaran kita atas keharusan memilih, maka kita mengalami peningkatan tanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi tindakan memilih
7.      Kecemasan timbul dari penerimaan ketidakpastian masa depan
8.      Kita bisa mengalami kondisi-kondisi kesepian, ketidakbermaknaan, kekosongan, rasa berdosa, dan isolasi, sebab kesadaran adalah kesanggupan yang mendorong kita untuk mengenal kondisi-konsidi tersebut.[6]

Maka, putusan untuk meningkatkan kesadaran diri adalah fundamental bagi pertumbuhan manusia. Berikut ini adalah daftar dari beberapa pemunculan kesadaran yang dialami orang, baik dalam konseling individual maupun dalam konseling kelompok.
1.      Mereka menjadi sadar bahwa dalam usaha yang nekat untuk dicintai, mereka sebenarnya kehilangan pengalaman dicintai
2.      Mereka melihat, bagimana mereka menukarkan keamanan yang diperoleh dari kebergantungan dengan kecemasan-kesemasan yang menyertai pengambilan putusan untuk diri sendiri
3.      Mereka mengakui, bagaimana mereka berusaha mengingkari berbagai ketidakkonsistenan diri mereka sendiri, dan bagaimana mereka menolak apa-apa yang ada di dalam diri sendiri, yang mereka anggap tidak bisa diterima
4.      Mereka mulai melihat bahwa identitas diri mereka tertambat pada penentuan orang lain, yakni mereka lebih suka mencari persetujuan dan pengukuhan dari orang lain daripada mencari pengukuhan diri sendiri
5.      Mereka belajar bahwa diri mereka dengan berbagai cara dibiarkan menjadi tawanan pengalaman-pengalaman dan putusan-putusan masa lampau
6.      Mereka menemukan sejumlah besar faset pada diri mereka sendiri, dan menjadi sadar bahwa dengan merepresi satu sisi dari keberadaan mereka, mereka merepresi sisi keberadaan yang lainnya. Misalnya, jika mereka merepresi tragedy, berarti mereka menutup diri dari kesenangan. Jika mereka mengingkari kebencian, berarti mereka mengingkari kesanggupan untuk mencintai, jika mereka mengusir sifat-sifat buruk, berarti mereka mengusir sifat-sifat baiknya sendiri
7.      Mereka bisa belajar bahwa mereka tidak bisa mengabaikan masa depan maupun masa lampau, sebab mereka bisa belajar dari masa lampau, dan dengan memahami masa lampau, mereka bisa membentuk masa depan
8.      Mereka dapat menyadari bahwa mereka dirisaukan oleh ajal dan kematian sehingga mereka tidak mampu menghargai kehidupan
9.      Mereka mampu menerima keterbatasan-keterbatasan, tetapi tetap merasa pantas, sebab mereka mengerti bahwa mereka tidak perlu menjadi sempurna untuk merasa pantas
10.  Mereka bisa mengakui bahwa mereka gagal untuk hidup pada saat sekarang karena dikuasai oleh masa lampau maupun oleh rencana masa depan, atau karena mencoba mengerjakan terlalu banyak hal sekalgus.

Dalil 2 : Kebebasan dan Tanggung Jawab
Manusia adalah makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk memilih di antara alternatif-alternatif. Karena manusia pada dasarnya bebas, maka dia harus bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya sendiri.
Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, keinginan dan putusan pada pusat keberadaan manusia, jika kesadaran dan kebebasan dihapus dari manusia, maka dia tidak lagi hadir sebagai manusia, sebab kesanggupan-kesanggupan itulah yang memberinya kemanusiaan. Pandangan eksistensial adalah bahwa individu, dengan putusan-putusannya, membentuk nasib dan mengukir keberadaannya sendiri. Seseorang menjadi apa yang diputuskannya dan dia harus bertanggung jawab atas jalan hidup yang ditempuhnya. Tillich mengingatkan “manusia benar-benar menjadi manusia hanya saat mengambil putusan. Sartre mengatakan, “Kita adalah pilihan kita”. Nietzsche menjabarkan kebebasan sebagai “ kesanggupan untuk menjadi apa yang memang kita alami”. Ungkap Kierkegaard, “memilih diri sendiri”, menyiratkan bahwa seseorang bertanggung jawab atas kehidupan dan keberadaannya .sedangkan Jaspers menyebutkan bahwa “kita adalah makhluk yang memutuskan”.
Tugas terapis adalah membantu kliennya dalam menemukan cara-cara klien sama sekali menghindari penerimaan kebebasannya, dan mendorong klien itu untuk belajar menanggung resiko atas keyakinannya terhadap akibat penggunaan kebebasannya.

Dalil 3 : Keterpusatan dan Kebutuhan akan Orang Lain
Setiap individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan dan keterpusatannya, tetapi pada saat yang sama ia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk berhubungan dengan orang lain serta dengan alam. Kegagalan dalam berhubungan dengan orang lain dan dengan alam menyebabkan ia kesepian, mengalami aliensi, keterasingan, dan depersonalisasi.

Keberanian untuk ada
Usaha menemukan inti dan belajar bagaimana hidup dari dalam memerlukan keberanian. Kita berjuang untuk menemukan, untuk menciptalan dan untuk memelihara inti dari ada kita. Salah satu ketakutan terbesar dari para klien adalah bahwa mereka akan tidak menemukan inti, diri dan substansi, dan menemukan kenyataan bahwa mereka hanyalah refleksi-refleksi pengharapan orang lain atas diri mereka.

Pengalaman Kesendirian
Para eksistensialis berdalil bahwa bagian dari kondisi manusia adalah pengalaman kesendirian. Bagaimana, kita bisa memperoleh kekuatan dari pengalaman melihat kepada diri sendiri dan dari merasakan kesendirian dan keterpisahan. Rasa terisolasi muncul ketika kita menyadari bahwa kita tidak bisa bergantung pada orang lain dalam mengukuhkan diri, yakni kita sendirilah yang harus memberikan makna kepada hidup kita, kita sendiri yang harus menetapkan bagaimana kita akan hidup, kita sendiri yang harus menemukan jawaban-jawaban, dan kita sendiri yang harus memutuskan apakah kita akan menjadi sesuatu atau tidak menjadi sesuatu.[7]
Pengalaman keberhubungan
Kita adalah makhluk relasional, dalam arti bahwa kita bergantung pada hubungan dengan orang lain untuk kemanusiaan kita. Kita memiliki kebutuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam dunia orang lain, dan kita butuh akan perasaan bahwa kehadiran orang lain penting dalam  dunia kita. Apabila kita memperbolehkan orang lain memiliki arti dalam dunia kita, maka  kita mengalami keterhubungan yang bermakna.
Dalil 4: Pencarian Makna
Salah satu karakteristik yang khas pada manusia adalah perjuangan untuk merasakan arti dan maksud hidup. Manusia pada dasarnya selalu dalam dunia pencarian makna dan identitas pribadi.
Terapi eksistesial bisa  menyediakan kerangka konseptual untuk membantu klien dalam usahanya mencari makna hidup.
Masalah penyisihan nilai-nilai lama
Salah satu masalah dalam terapi adalah penyisihan nilai-nilai tradisional (dan nilai-nilai yang dialihkan kepada seseorang) tanpa disertai penemuan nilai-nilai lain yang sesuai untuk menggantikannya.  Apa yang dilakukan oleh terapis jika menghadapi klien yang tidak lagi berpegang pada nilai-nilai yang tidak pernah sungguh-sunguh ditantang atau diinternalkan, dan klien tersebut sekarang mengalami keadaan hampa? Klien membutuhkan petunjuk-petunjuk dan nilai-nilai baru yang cocok denga faset-faset yang ditemuinya. Tugas terapis dalam proses teraepeutik adalah membantu klien dalam menciptakan suatu sistem nilai berlandaskan cara hidup yang konsisten dengan cara adanya klien.
Logoterapi, yang dikembangkan oleh Viktor Frankl, dirancang untuk membantu individu dalam menemukan makna dalam hidupnya. Menurut Frank (1959), pencarian makna adalah salah  satu cirri manusia. Keinginan kepada makna adalah perjuangan utama manusia. Hidup tidak memiliki makna dengan sendirinya. Manusialah yang harus menciptakan dan menemukan makna hidup itu.
Pandangan eksistensial tentang psikopatologi
Para terapis eksistensial memandang neurosis sebagai kehilangan rasa ada, yang membawa serta pembatasan kesadaran dan penutupan kemungkinan-kemungkinan yang merupakan manifestasi-manifestasi dari ada. Mereka juga menyebut “frustasi eksistesial” atau “ kehampaan eksistesial” sebagai akibat kegagalan ketika mencari makna dalam hidup.
Dosa eksistensial berkaitan dengan konsep psikoterapi. Dos eksistensial itu timbul dari perasaan tidak lengkap atau dari kesadaran seseorang bahwa dirinya menjadi sebagaimana mestinya. Dosa eksistensial juga merupakan kasadaran pada seseorang bahwa tindakan – tindakan dan piliha-pilihan nya tidak bisa menyatakan potensi-potensinya secara penuh sebagai pribadi.
Dalil 5: Kecemasan sebagai syarat hidup
Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan, kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggungjawab untuk memilih.
Kecemasan sebagai sumber pertumbuhan
Sebagai karakteristik manusia yang mendasar, kecemasan adalah reaksi ancaman. Kecemasan menyerang inti keberadaan. Kecemasan adalah apa yang dirasakan ketika keberadaan diri terancam.
Pelarian dari kecemasan
Seperti kita ketahui, kecemasan adalah produk sampingan dari perubahan. Bentuk kecemasan yang konstruktif (kecemasan eksistensial) adalah fungsi dari penerimaan kita atas kesendirian dan meskipun kita bisa menemukan hubungan yang bermakna dengan orang lain, kita pada dasarnya tetap sendirian. Keceasan eksistensial juga muncul dari perasana bersalah yang dialami apabila kita gagal mengaktulkan potensi-potensi kita.
Implikasi –implikasi Konseling bagi kecamasan
Kebanyakan orang mencari bantuan profesional karena mereka engalami kecemasan atau depresi. Banyak klien yang memasuki kantor konselor disertai harapan bahwa konselor akan mencabut penderitaan meraka atau setidaknya akan memberikan formula tertentu untuk mengurangi kecemasan mereka. Konselor yang beroreintasi eksistensial, bagaimanapun, bekerja tidak semata-mata untuk menghilangkan gejala-gejala atau mengurangi kecemasan. Sebenarnya, konselor ekesistensial tidak memandang kecemasan sebagai hal yang tidak diharapkan. Ia akan bekerja dengan cara tertentu sehingga untuk sementara klien bisa mengalami peningkatan taraf kecemasan.
Dalil 6: Kesadaran atau Kematian dan Non- Ada
Kesadaran atas kematian adalah kondisi manusia yang mendasar yang memberikan makna kepada hidup.
Para eksistensialis tidak memandang kematian secara negative. Menurut mereka, karakteristik yang khas pada manusia adalah kemampuannya untuk memahami konsep masa depan dan tak bisa dihindarkannya kematian. Justru kesadaran atas akan terjadinya ketiadaan memberikan makna kepada keberadaan, sebab hal itu menjadikan setiap tindkaan manusia itu berarti.[8]
Dalil 7: Perjuangan unuk Aktualisasi Diri
Manusia berjuang untuk aktualisasi diri, yakni kecendrungan untuk menjadi apa saja yang mereka mampu.
Setiap orang memiliki orongan bawaan untuk  menjadi seorang pribadi, yakni mereka memiliki kecendrungan ke arah pengembangan keunikan dan ketunggalan, penemuan identitas pribadi, dan perjuangan demi aktualisasi potensi-potensinya secara penuh.[9]
Dalil Maslow tentang aktualisasi diri memiliki implikasi-implikasi yang jelas bagi praktek psikologi konseling, sebab tendensi kearah pertumbuhan dan aktualisasi merangkum kekuatan utama yang menggerakan proses terapeutik.
Carl Rogers (1961), seorang  tokoh utama dalam penciptaan psikologi humanistic, membangun teori dan praktek terapinya di atas konsep tentang “pribadi yang berfungsi penuh” , yang sangat mirip dengan  “orang yang mengaktualkan diri “ yang sangat mirip dengan “orang yang mengaktualkan diri” yang dikemukakan oleh Maslow.[10]
Jadi pada dasarnya terapi eksistensialisme tidak memiliki teknik-teknik yang berkaitan dengan proses terapi. Hal ini dikarenakan pendekatan ini bukanlah terapi yang berasal dari teori tunggal, melainkan terapi yang mengambil beberapa metode dari pendekatan yang lain dalam pelaksanaannya seperti pendekatan Gestalt, Psikoanalisis, Humanisme yang berupa asosiasi bebas, transferensi, aktualisasi diri, dan lain-lain.[11]

yasan.multiply 200/11/01 com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar